Legoso.co

Beranda » Sastra » Djenar Main-Main dengan Kelamin

Djenar Main-Main dengan Kelamin

Myspace Rainbow Text - http://www.myrainbowtext.com

Facebook Legosocom

Judul: Jangan Main-main (dengan Kelaminmu)

Penulis: Djenar Maesa Ayu

Cetakan: Januari 2004

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal: xxvii+122 halaman

Legoso.Com-Seberapa sering kamu atau dia bermain-main dengan kelaminmu? Jangan Main-main dengan Kelaminmu. Itulah judul kumpulan cerpen karya Djenar Maesa Ayu. Lewat sastra wangi ini Djenar ingin meresahkan pikiran dan imajinasi pembacanya. Ia total sedang bermain-main dengan kelamin lewat kata. Tapi ini bukan novel porno atau stensil, ia serius menjanjikan makna-makna yang luput dan diremehkan.

Menyusu Ayah, salah satu cerpen yang termuat dalam novel ini membuat pembaca ingin masuk lebih dalam pada karakter Nayla yang suka menyusu pada penis ayahnya. Menyusu Ayah menjadi Cerpen Terbaik versi Jurnal Perempuan pada 2002 dan diterjermahkan oleh Richard Oh dengan judul Suckling Father.

Vulgar, tabu sekaligus segar melumat tiap alur cerita yang berani menguliti dogma mapan dalam masyarakat. Tema perselingkuhan ada pada cerpen Jangan Main-main (dengan kelaminmu), Mandi Sabun Mandi, Saya di Mata Sebagian Orang, dan Staccato. Ekspose kenikmatan seks digambarkan pada Menyusu Ayah, Penthouse 2601, dan Payudara Nai-nai. Sedangkan cerpen Cermin, Saya adalah Seorang Alkoholik, Ting, dan Moral memiliki tema yang masing-masing berbeda dan unik.

Moral menjadi cerpen yang bisa dikatakan mewakili pesan kumpulan cerpen lainnya. Isinya menceritakan tentang seorang perempuan yang dilema pada pilihan antara membeli rok mini atau moral. Moral sangat murah harganya hanya seribu rupiah sedangkan rok mini berkali-kali lipat lebih mahal seharga satu juta sembilan ratus sembilan puluh delapan ribu delapan ratus rupiah. Uang yang ia punya didompet hanya dua juta rupiah. Tapi Ia pun memutuskan untuk membeli rok mini.

Saat dipakai di rumah, rok mini yang baru dibelinya kekecilan. Esoknya ia pun menukar dengan ukuran yang pas dengan tubuhnya. Tapi ia terperanjat ketika melihat harga moral sudah naik menjadi tiga ribu rupiah. Tapi perempuan itu teguh pada prinsipnya sebagai pembeli, ia tak mau rugi. Menurutnya moral bukanlah sesuatu yang penting dalam hidupnya. Ia pun total melakukan perawatan untuk bersiap hadir di pesta ketika ia akan memakai rok mini barunya dan bergaya ala rock star.

Sudah menjadi doktrin umum di masyarakat dahulu bahwa perempuan tak perlu sekolah terlalu tinggi. Begitupun doktrin kedua orangtua pada perempuan itu. Orangtuanya berpendapat yang penting untuk perempuan hanya pintar merawat diri dan suami. Cinta dimulai dari mata turun ke perut dan dari perut turun ke hati.

Aneh, dari perut kok turun ke hati? Mungkin dari perut turun ke bawah perut tapi mereka tidak tega mengatakannya walaupun tega anaknya mempraktekkannya. Tapi kenyataannya, jangankan masak dan merawat suami. Akhirnya Cuma dapat suami orang

                                                (Jangan Main-main (dengan Kelaminmu), hal. 29)

Di pesta yang dihadiri perempuan tersebut, ia akan bersaing dengan perempuan atau laki-laki lain untuk mendapatkan laki-laki perjaka atau duda untuk kelak bisa menjadi suaminya. Djenar menggambarkan realitas bahwa kini perempuan tidak hanya bersaing dengan sesama perempuan, tapi juga laki-laki yang berorientasi homoseksual. Tokoh laki-laki homoseksual itu muncul sebagai teman atau pasangan pesta si perempuan rok mini.

Sesampainya di pesta, perempuan itu dengan percaya diri menggunakan rok mininya. Tapi tak disangka ternyata seluruh hadirin pesta yang datang malah menggunakan moral. Mereka menggunakan moral sebagai penghias kepala, dada, dan manset. Perempuan itu kecewa bukan main. Ia menyesal tak membeli dan memakai moral. Sambil berbisik pasangan perempuan tersebut mengatakan bahwa moral juga diobral di gedung DPR seharga lima ribu tiga hari itu.

Menarik! Sejak kapan moral bisa dibeli di etalase toko? Tentu moral memang telah menjadi komoditi di masyarakat bahkan di gedung DPR. Karena kita ingin dinilai bermoral, kita merasa harus menggunakannya secara kasat mata. Tapi itukah moral? Lewat kumpulan cerpen ini, Djenar mempreteli nilai-nilai moral itu satu persatu.

Membaca cerpen-cerpennya, kita tergugah untuk mempertanyakan moral. Bukankah moral juga konstruksi budaya dan sosial. Atas nama moral, kenikmatan seksual adalah milik laki-laki karena perempuan tabu untuk aktif. Atas nama moral, perempuan pelacur dianggap hina sedangkan laki-laki yang memakai pelacur tidak berpredikat selayaknya pelacur. Bisa dikatakan, diam-diam Djenar sedang menggarami pembaca untuk melawan budaya patriarki.

Kumpulan cerpen ini terbit pada 2004 tapi masih tetap relevan dibaca. Memang feminisme betul. Feminis meyakini jika budaya dilawan dengan budaya. Jika selama ini karya yang terbit soal keindahan dan seksualitas diekspose dari perspektif laki-laki, kini saatnya kamu layak mencoba bagaimana perempuan berperspektif terhadap sesuatu. Selamat membaca!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: