Legoso.co

Beranda » Opini » Hilangnya Darah Juang Mahasiswa

Hilangnya Darah Juang Mahasiswa

Myspace Rainbow Text - http://www.myrainbowtext.com

Facebook Legosocom

Reformasi; Ueforia yang tak Bertahan Lama

Kita hampir memasuki dua dekade dari reformasi ‘98, hampir dua dekade kita terbebas dari kungkungan rezim orba. Rasa bebas itu pun ditandai dengan meningkatnya partisipasi aktif dari berbagai lapisan masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara (kultural, sosial-politik). Disana-sini muncul macam-macam aspirasi dari berbagai golongan, mengisi tiap lembaran koran, majalah, siaran radio dan televisi. Itu amat terasa pada masa-masa awal pasca reformasi, namun menjelang dua dekade ini, kok terasa hambar sebuah kebebasan itu. Entah kenapa, dan kemana perginya semangat itu?

Saya menyatakan demikian, dengan berangkat pada pengalaman suatu kondisi mahasiswa di dalam lingkungan kampusnya. Kenapa mahasiswa? Tak bisa kita pungkiri, aktor dibalik ‘98 mayoritas adalah mahasiswa, meskipun ada “tangan Tuhan” yang turut bermain di balik layar. Merekalah aktor utama dalam ‘penggusuran’ tahta kekuasan dari kuasa orba. Kembali pada mahasiswa, saat ini kondisi mahasiswa terasa kering akan semangat, rasa bebas pada fase reformasi seakan hilang entah kemana, terkikis perlahan-lahan, terbawa suasana kehidupan mahasiswa yang kian hedon serta buaian manja media yang menghipnotis dengan tipu muslihatnya.

Seiring berjalannya waktu, kejayaan reformasi yang ditempuh dengan jalan mengorbankan jiwa mahasiswa itu kian meredup, penerima tongkat estafet reformasi tak sanggup meneruskan cita-cita agung. Jiwa yang lenyap sekedar jadi simbol yang diperingati tiap tahun, sebuah ritual yang mengundang kembali luka dan duka. Tapi asa tak kunjung tiba.

Kini, mahasiswa, entah lupa atau sengaja melupakan cita-cita reformasi. Atau jangan-jangan aktor ‘98 sendiri yang tidak (ingin) melanjutkan cita-cita itu pada mahasiswa di bawahnya. Sebatas menjadikan momentum itu untuk menaikkan pamor (status sosial-politik) diri dan masanya. Toh pada hari ini, bukannya banyak posisi-posisi strategis dan kebijakan publik yang kini berada di tangan mereka? Bahkan banyak dari mereka yang kini berada dalam nyamannya kursi senayan, para anggota dewan.

Mahasiswa Kini; Disorientasi

Saya menyebut kondisi saat ini dengan masa disorientasi. Begini, umumnya mahasiswa berasal dari latar belakang sosial-ekonomi yang beragam, hal itu menentukan perbedaan orientasi masing-masing individu dalam menghadapi dunia perkuliahan. Berdasarkan pengamatan saya, bagi mereka yang berasal dari golongan yang termarjinalkan secara sosial-ekonomi, mungkin memiliki orientasi untuk mengubah kondisi kehidupan saat ini menuju masa depan yang lebih baik. Bagi mereka yang berasal dari golongan menengah-atas, memiliki orientasi untuk mengejar ijazah sebagai persyaratan menuju dunia kerja. Adapun bagi golongan atas, bangku perkuliahan tidak lebih dari sebuah gaya hidup untuk mengangkat prestis diri dan keluarganya dalam kelompok, mempertahankan status quo. Sekali lagi, ini adalah pengamatan pribadi dan tidak untuk dibenarkan oleh publik.

Dengan berbagai latar belakang sosial-ekonomi yang membentuk macam-macam orientasi tersebut, mahasiswa masih dihadapkan dengan kodisi kehidupan kampusnya. Hal ini pun turut berpengaruh dalam  menentukan orientasi awal seorang mahasiswa. Maka tak jarang seorang mahasiswa mengalami perubahan orientasi setelah mengalami problematika kehidupan kampus. Ada yang sesuai dengan ekspektasi, ada pula yang tidak sesuai dan bahkan bertolak belakang. Hal ini ditambah dengan banyaknya tugas dan tanggung jawab yang diemban mahasiswa. Makin jauh mendalami kehidupan kampus, kian komplekslah permasalahan yang dihadapi. Adanya kemudahan dalam akses media (teknologi-informasi) turut memperparah keadaan mahasiswa masa kini.

Hal itulah yang membedakan mahasiswa masa dulu yang doyan aksi dalam membela rakyat yang tertindas, dan kritis pada penguasa, dengan mahasiswa kini yang kian hedonis, boro-boro kritis pada penguasa, mereka kebanyakan apatis terhadap sekitarnya. Kemudahan-kemudahan yang ada justru tidak menjadikan mahasiswa kian peduli dengan kondisi sekitar, krisis kritis, kering akan semangat reformasi dan hampa akan ide-ide baru. Lebih jauh lagi, substansi pendidikan jadi kian samar, buram-gelap.

Memang ada juga beberapa individu atau kelompok mahasiswa yang menunjukkan sikap peduli dan kritis, tapi itu tidak bertahan lama, suatu saat akan hilang. Tidak sampai situ, beberapa organisasi mahasiswa (ormawa) yang ada di lingkungan kampus turut terkena imbasnya. Sedikit demi sedikit, kultur organisasi yang sudah puluhan tahun mengakar, akhirnya tumbang dengan perlahan. Meski begitu ada beberapa diantaranya berusaha untuk mempertahankan kultur serta ideologi yang kritis dan independen. Itu pun terkadang rasa putus asa terus menggelayuti. Tapi setidaknya masih ada usaha dan komitmen.

Yang amat disayangkan adalah ketika beberapa ormawa tidak lagi menghiraukan sikap idealis dan komitmen untuk memperjuangkan aspirasi rakyat, minimal aspirasi mahasiswa. Tak jarang mantan aktivis yang menyindir mereka yang bertahan dengan sikap idealisnya, bahkan ada juga yang menertawai dan memperolok. Inilah yang menyebabkan mahasiswa masa kini kurang antusias terhadap dunia organisasi. Alih-alih memfokuskan diri pada dunia akademik dan mengacuhkan diri untuk terlibat dalam sebuah organisasi, padahal –bukan maksud merendahkan- kemampuan akademiknya pun tak seberapa, pas-pasan.

Ajang Proyek Petinggi Kampus

Kondisi di atas, kemudian ‘dimanfaatkan’ oleh para petinggi kampus yang penuh ambisi dalam mengejar ambisi mewujudkan kampus menuju World Class University (WCU), sebuah santadarisasi internasional yang terlalu dipaksakan. Padahal itu adalah standarisasi yang dibuat oleh asing, yang notabene belum tentu atau bahkan tidak sesuai sama sekali dengan cita-cita (substansi) pendidikan bangsa kita, indonesia. Entah pola pikir apa yang sedang diterapkan oleh para petinggi pendidikan bangsa ini, toh bukankah mereka itu para ahli? Tentulah mereka mafhum dengan segala bentuk upaya yang dilaksanakan demi kemajuan pendidikan bangsa ini. Atau mungkin saya yang terlalu naif dan kolot dalam memandang segala upaya mereka?

Terkait status WCU inilah, para petinggi kampus dengan segala upayanya mengeluarkan berbagai kebijakan yang bakal diterapkan di lingkungan kampusnya. Segala hal yang bertujuan dalam proses percepatan untuk meraih gelar WCU dengan segera digalakkan, dan sebaliknya, segala hal yang menghambat proses percepatan dalam meraih WCU itu disingkirkan, dibuang jauh-jauh, atau bahkan dilenyapkan. Berbagai program studi yang dianggap sebagai favorit, maka segera diada-adakan, yang tidak difavoritkan siap-siap untuk ditiadakan. Kesannya program studi ibarat barang dagangan yang dijajakan dalam etalase-etalase supermarket atau emperan-emperan toko. Dalam hal ini, kampus sebagai pedagang yang menjajakan berbagai program studinya pada calon mahasiswa yang menjadi konsumennya, tentunya dengan embel-embel WCU tersebut.

Logika seperti inilah yang menurut saya keliru. Sejauh ini, pelaksanaan dan pelayanan pendidikan sendiri belum memenuhi kepuasan dan kebutuhan para mahasiswa. Tapi malah mengejar standar dan mengesampingkan proses pelaksanaan dan pelayanan yang sedang berjalan. Para petinggi kampus terlalu terpaku dan berorientasi pada standarisasi yang dibuat oleh asing yang mencoba untuk mengendalikan perkembangan dunia pendidikan bangsa ini. Kenapa bukan kita sendiri yang menciptakan sebuah standar bagi pendidikan bangsa ini? Kenapa mesti kita yang harus mengejar standarisasi asing yang hasratnya ingin ‘menguasai’? Pertanyaan ini yang masih mengganjal dalam benak saya.

Sangat kompleks problematika yang ada dalam dunia kampus yang disebut-sebut sebagai miniatur negara, sangat beragam pula para sivitas akademi dalam menanggapinya. Saya turut mengapresiasi mereka yang masih peduli dan mempertahan idealisme serta kritis terhadap para pejabat. Juga pada mereka yang terus membangun dan menghidupkan kembali suasana kampus yang lebih menghargai kreatifitas mahasiswa, menjunjung nilai-nilai sportifitas dan toleransi dalam perbedaan pendapat dan keyakinan. Tanpa mereka, mustahil  sekali terwujud dinamisasi khususnya dalam lingkungan kampus, dan masyarakat pada umumnya.

Terlepas dari berbagai persoalan di atas, tentu masing-masing dari kita mempunyai jalan yang ditempuh dan pandangan yang berbeda-beda dalam menggapai sebuah tujuan. Akan tetapi masing-masing diantara kita memiliki semangat menggapai tujuan itu untuk menuju ke arah yang sama, yaitu kebaikan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: