Legoso.co

Beranda » News » Kita dan Riwayat Banjir di Jakarta

Kita dan Riwayat Banjir di Jakarta

Myspace Rainbow Text - http://www.myrainbowtext.com

Facebook Legosocom

Gambar: Merdeka.com

Banjir di depan gedung BCA Sudirman mencapai 80cm
Gambar: Merdeka.com

Banjir memang bukan hal asing bagi warga Jakarta dan sekitarnya. Tiap musim penghujan, kedatangannya selalu diwaspadai. Terutama bagi yang tinggal dekat bantaran sungai. Namun yang terjadi di pertengahan Januari 2013 ini sungguh luar biasa. Meski belum dapat dipastikan sebagai puncaknya, banjir pada Kamis, (17/1/2013), telah melumpuhkan Ibukota selama sehari. Transportasi putus akibat ruas-ruas jalan, stasiun, dan rel kereta terendam. Pusat pertokoan, perkantoran, pemerintahan, bahkan Istana Negara tak luput dari genangan air.

Hingga Senin, (21/1/2013, kondisi belum sepenuhnya pilih. Tercatat 20 orang meninggal, disebabkan dampak langsung maupun tak langsung dari banjir. Sedangkan dunia usaha merugi milyaran rupiah. Gedung-gedung yang terendam masih berantakan, jalanan dan fasilitas umum mengalami kerusakan, sementara posko-posko banjir tetap disiagakan.

Menilik ke belakang, peristiwa ini bukan yang pertama. Sebagaimana diberitakan Kompas, peneliti pada Program Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Indonesia,  Firdaus Ali menerangkan, banjir besar di Jakarta (Batavia) telah terjadi sejak 1895, dan hingga kini terus berulang.

Pada 1920, Prof H van Breen dari Burgelijke Openbare Werken, menggagas Kanal Banjir Timur dengan tujuan agar aliran sungai Ciliwung tak melintas di tengah kota Batavia. Gagasan Breen itu merupakan respon atas banjir besar yang terjadi dua tahun sebelumnya. Pada 1973, pemerintah Indonesia melanjutkan proyek Breen dengan upaya pengendalian banjir bertumpu pada dua terusan yang melingkari sebagian besar wilayah kota. Dua terusan itu selanjutnya dikenal sebagai Kanal Banjir Barat dan Kanal Banjir Timur. Selain itu dibangun pula waduk dan penempatan pompa pada daerah-daerah yang lebih rendah dari permukaan air laut.

Setelah terjadi banjir di wilayah Jakarta Barat pada 1979, pemerintah pusat bersama Pemerintah DKI Jakarta membuat jaringan pengendali banjir lainnya, yakni jaringan kanal dan drainase bernama Sistem Drainase Cengkareng, yang rampung pada tahun 1983, guna mengurangi genangan pasca banjir.

Namun upaya di atas dinilai tak efektif oleh sejarawan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Restu Gunawan. Menurutnya, kanal-kanal yang dibangun hanya bertujuan mengalirkan air secepatnya ke laut, bukan menahan air semaksimal mungkin agar terserap tanah. Restu meyakini bahwa Belanda salah memahami Jakarta sebagai layaknya kota-kota di negara asalnya, yang berada lebih rendah dari laut.

Kondisi Jakarta terbilang unik karena terletak di daratan rendah berupa cekungan, yang dialiri 13 aliran sungai dan 76 anak sungai. Seiring perkembangan zaman, Jakarta makin komplek dengan jumlah dan komposisi penduduk mencapai 12,7 juta dari berbagai etnis. Sistem drainase, yang merupakan warisan dari tahun 1970-an ketika penduduknya sekitar 4,5 juta jiwa, tentu saja sudah tak layak.  Belum lagi, perilaku manusianya yang egosis tak mau hidup baik dan selaras dengan lingkungan, membuat sungai-sungai di Jakarta bagaikan monster mengerikan dan menjijikkan. Sungai yang mestinya menjadi sumber air dan punya potensi wisata tak berfungsi. Kotor, bau, dan menjadi sarang nyamuk di musim kemarau, ganas dan membahayakan dengan ancaman banjirnya di musim kemarau.

Oleh karena itu, selain pembangunan fisik, dibutuhkan kesadaran akan arti pentingnya menjaga lingkungan. Jika tidak, segala upaya pembangunan fisik yang dilakukan hanya akan berujung sia-sia. Sudah saatnya kita melakukan evaluasi kolektif. Menumbukan dan memupuk kembali kesadaran untuk hidup beradab. Tidak membuang sampah sembarangan apalagi ke sungai. Manjalin persahabatan dan kekeluarga dengan sungai, alam, dan lingkungan. Tanamkan hal itu mulai dalam diri kita masing-masing. Tranformasikan pada anak cucu kita. Sehingga Jakarta menjadi kota dengan sungai yang mengalir indah di bawahnya. Persis gambaran surga di kitab suci al-Qur’an.

Referensi : wikipedia.org, Kompas (19/1/2013)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: