Legoso.co

Beranda » Opini » Refleksi “Memento Mori”

Refleksi “Memento Mori”

Myspace Rainbow Text - http://www.myrainbowtext.com

Facebook Legosocom

Legoso.co

Legoso.co

Selembut doa-doa pagi yang rutin telah kucecap semua rasa di tahun 2012. Banyak pergulatan baik pikiran emosi dan tenaga. Tapi aku merasa ada yang kurang dan harus ada kenangan yang dihilangkan walau sulit untuk dilupakan. Ah, ini Cuma racauan aku saja, ada yang lebih penting dari semua hal ini.

Sudah tahun 2013, setiap orang berfikir dan berharap dengan resolusinya. Ketika aku berefleksi memang di tahun kemarin aku banyak menyia-nyiakan waktu, dan waktu begitu cepat berlalu. Lalu apa resolusi yang aku buat? Pertanyaan mendasar pada setiap jiwa manusia yang menginginkan kehidupan lebih baik.

Aku teringat dengan tulisan Bre Redana tentang Memento Mori yang dimuat di harian kompas. Memento Mori? Dalam bahasa latin artinya ingat kefanaanmu. Apakah kita ini manusia fana? Secara fisik dan rasio yang kita miliki, kita adalah makhluk berwujud yang hidup bersosialisasi dan pada akhirnya mati dan kembali ke sang Pencipta. Namun tanpa disadari lingkungan sosial kita mengisyaratkan bagaimana pragmatisme menjadi solusi atas segala hal. Satu hal yang membawa manfaat bagi kepentingan pribadi lebih diutamakan daripada kepentingan bersama.

Contoh kecil dalam dunia pendidikan, seorang mahasiswa menuturkan “idealisme sudah mati” sekarang lebih baik cepat lulus kuliah dengan mengikuti semester pendek dari pada harus mengulang di semester panjang. Ilmu iku kalakone kanti laku (pencapaian ilmu itu melalui proses belajar). Nah, Sikap pragmatis dan reduksionismekan itulah yang akhirnya melegitimasi banyaknya praktik jual beli gelar.

Memang Dunia pasca-ideologi sejatinya cuma berisi kepentingan-kepentingan pragmatis. Tidak semua hal bisa dinalar secara pragmatis kawan. Nalar pragmatik berdasar pada situasi yang kontekstual beda dengan semantis yang bebas dari konteks dan lebih mengedepankan makna. Pragmatik bisa diartikan bersifat praktis dan berguna bagi umum, bersifat mengutamakan segi kepraktisan dan kegunaan (kemanfaatan), mengenai/bersangkutan dengan nilai-nilai praktis. Karena itu, pragmatisme memandang bahwa kriteria kebenaran ajaran adalah faedah atau manfaat. Pragmatisme dirintis di Amerika oleh Charles S. Pierce (1839-1942) yang kemudian dikembangkan oleh William James (1842-1910) dan John Dewey (1859-1952).

Ada hal yang menarik, meski pragmatisme adalah cabang dari empirisme yang mengedepankan panca indera, tapi efeknya adalah sebaliknya. Apakah panca indera dan segala nilai-nilai empirik itu dapat memenuhi kebutuhan akan kepuasan suatu hal? Disinilah terdapat kekeliruan dari nalar pragmatis.  Pragmatisme menafikkan peran akal manusia. Menetapkan kebenaran sebuah ide adalah aktivitas intelektual dengan menggunakan standar-standar tertentu. Sedangkan penetapan kepuasan manusia dalam pemenuhan kebutuhannya adalah identifikasi naluriah. Memang, identifikasi naluriah dapat menjadi ukuran kepuasan manusia dalam memuaskan hasratnya, tetapi tidak dapat menjadi ukuran kebenaran sebuah ide. Artinya, pragmatisme telah menafikkan aktifitas intelektual dan menggantinya dengan identifikasi naluriah. Dengan kata lain, pragmatisme telah menundukkan keputusan akal pada kesimpulan yang dihasilkan dari identifikasi naluriah. Ya seperti contoh tadi.

 

Pragmatisme “One Dimensional Man”

Entah apakah pragmatisme ada kaitannya dengan teori yang dikemukakan oleh Herbert Marcuse tentang manusia satu dimensi. Namun ada hal yang bisa penulis simpulkan bahwa manusia sekarang ditindas oleh masyarakat industri modern yang sengaja menciptakan manusia-manusia dengan nalar pragmatis. Ciri khas dari masyarakat industri modern adalah peranan ilmu pengetahuan dan teknologi. Rasionalitas zaman ini adalah rasionalitas teknologi. Segalanya dipandang dan dihargai sejauh dapat dikuasai, digunakan, diperalat, dimanipulasi dan ditangani.

Instrumentalisasi menjadi semacam kata kunci dalam pandangan teknologis. Manusia menciptakan, memanipulasi dan memeralat benda-benda, alam serta mesin-mesin, untuk memudahkan hidupnya. Selain instrumentalisasi, ilmu pengetahuan modern juga ditandai dengan istilah operasionalisasi. Maksud dari operasionalisasi ini menyatakan, ilmu-ilmu pengetahuan hanya berguna sejauh dapat diterapkan dan bersifat operabel. Ini tampak dalam penelitian sosial, di mana setiap perubahan yang sifatnya kualitatif disingkirkan. “Yang penting gw cepet lulus”

 

Misalnya, ketika kurikulum diperkuliahan tidak bisa menghasilkan sarjana-sarjana berkualitas maka di suruhlah mahasiswa untuk kuliah lebih cepat. Dengan situasi seperti ini dibentuklah batas maksimal perkuliahan melalui kode etik yang tidak lebih mengedepankan hubungan emosional antara pendidik dan peserta didik agar menjadi mahasiswa yang berkualitas. Singkatnya, masalah atau kesukaran disingkirkan tanpa mengubah struktur masyarakat pendidikan tinggi. Sistem tetap dipertahankan.

 

Dalam komunikasi massa dan kebudayaan massa di era pasca-ideologi saat ini, dapat dikatakan bahwa budaya massa adalah budaya popular yang dihasilkan melalui teknik-teknik industrial produksi massa dan dipasarkan untuk mendapatkan keuntungan khalayak konsumen massa. Dengan berbagai macam manipulasi yang disajikan maka bisa dikatakan keadaan seperti sekarang seperti mitos oleh Roland Barthes.

 

Mitos pada mulanya adalah cerita-cerita suci yang diceritakan secara turun temurun, biasanya kepada mereka yang sudah diinisiasi. Mitos menurut Roland Bartes berhubungan dengan bahasa dimana petanda, penanda dan tanda menjadi bagian dari usaha mengerti makna dari mitos. Pada pengertian ini mitos mengalami pergeseran arti, sehingga mitos bukan lagi sebuah cerita suci yang menjadi pedoman arah dalam hidup masyarakat, melainkan mitos sebagai cara menyampaikan sesuatu, tidak secara tekstual tetapi cara melihat makna dibalik yang tekstual.

 

Salah satu produk dari mitos adalah iklan, bagaimanapun media berperan penting dalam penyebaran mitos. Komunikasi massa yang ditampilkan menjadi konsumsi dalam kebudayaan massa. Masyarakat kian diarahkan menjadi konsumen-konsumen produk dari kapitalis yang secara tersirat membentuk nalar pragmatis dimasyarakat. Efeknya adalah kita menjadi semakin kesulitan mencari nilai sejati yang terkandung pada suatu produk yang dikonsumsi. Apakah konsumsi itu berdasarkan pada nilai kebutuhan atau hanya sekadar pemenuhan hasrat.

Membongkar Mitos

Sangat disadari usaha melarikan diri dari perangkap budaya massa itu sulit sekali. Hanya kesadaran berefleksi dan memuhasabah diri melalui Memento Mori menurut penulis ini seagai salah satu cara keluar dari perangkap budaya. Walau pada kenyataannya kita selalu bergelut dengan budaya massa dan kita hidup di dalamnya. Dengan usaha membongkar melalui semiologi dan pembacaan di luar teks maka kita akan mendapatkan makna apa yang terkandung di dalam pesan yang disampaikan oleh situasi yang disebut oleh Jean Baudrillard sebagai simulacra. Coba baca lagi, mungkin usaha ini akan menjadikan kita pribadi yang lebih bijak.

Twitter: @ibnu_afan


1 Komentar

  1. Rhiza Burhan mengatakan:

    hmm,,,, dahsyaaattt.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: